Ombak Bono
Melihat orang berselancar di pantai itu hal yang biasa tapi melihat orang berselancar di arus sungai itu luar biasa.
Catatan sedih BJ. habibie
Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung.
Jembatan Megah di Siak
Jembatan Siak, Tengku Agung Sultanah Latifah ini berada di Ibu Kota Kabupaten Siak, Provinsi Riau yang membentang diatas Sungai Siak.
Sukarno Putra Sang Fajar
SUKARNO sesosok Presiden pertama indonesia, yang menguncang dunia, kepribadiannya dan tata cara bahasanya, menandakan beliau adalah sangpemimpin.
Istana Sayap
ISTANA SAYAP awalnya dibangun oleh Sultan Pelalawan ke 29, yakni Tengku Sontol Said Ali (1886 – 1892 M). Sebelum bangunan itu selesai.
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 Desember 2013
Senin, 08 Oktober 2012
Istana Sayap Kabupaten Pelalawan
ISTANA SAYAP awalnya dibangun oleh Sultan Pelalawan ke 29, yakni Tengku Sontol Said Ali (1886 – 1892 M). Sebelum bangunan itu selesai, beliau mangkat digelar Marhum Mangkat di Balai. Selanjutnya pembangunan Istana ini diteruskan sampai selesai oleh pengganti beliau yakni Sultan Syarif Hasyim II (1892 – 1930 M).
Pada awalnya pusat kerajaan Pelalawan berada di Sungai Rasau (anak sungai Kampar), berlokasi di Kota Jauh dan Kota Dekat. Ketika Tengku Sontol Said Ali menjadi Sultan Pelalawan, beliau berazam memindahkan istananya dari sungai Rasau ke pinggir sungai Kampar, tepatnya di muara sungai Rasau yang disebut “Ujung Pantai”. Karenanya, istana ini dinamakan pula “ISTANA UJUNG PANTAI”. Namun ketika Sultan Syarif Hasyim II melanjutkan pembangunan istana yang masih terbengkalai karena mangkatnya Sultan Tengku Sontol Said Ali, maka beliau membangun dua sayap disamping kanan dan kiri istana, yang dijadikan Balai. Maka istana inipun dinamakan “ISTANA SAYAP”. Bangunan di sebelah kanan istana (sebelah hulu) disebut “Balai Sayap Hulu” yang berfungsi menjadi kantor Sultan”, dan bangunan di sebelah kiri Istana (sebelah hilir) dinamanakan “Balai Hilir” yang berfungsi sebagai “Balai Penghadapan” bagi seluruh rakyat Pelalawan.
Sekitar tahun 1896 M bangunan istana Sayap selesai seluruhnya, dan Sultan Syarif Hasyim II berpindah dari Istana Kota Dekat di sungai Rasau ke Istana Sayap di Ujung Pantai. Sejak itu, pusat pemerintahan kerajaan Pelalawan menetap di pinggir sungai Kampar yang sekarang menjadi Desa Pelalawan, dan Ibukota Kecamatan Pelalawan.
Untuk mengenang jasa Sultan Syarif Hasyim II yang memindahkan pusat pemerintahan kerajaan Pelalawan dari sungai Rasau ke pinggir sungai Kampar dimaksud, ketika mangkatnya beliau digelar “MARHUM KAMPAR II. (Marhum Kampar I adalah Sultan Mahmud Syah I, Sultan Melaka terakhir yang mangkat di Pekantua Kampar 1528 M).
FILOSOFI ISTANA SAYAP
Dahulu, setiap bangunan dirancang secara cermat, disempurnakan dengan berbagai syimbol dan makna, agar memberikan kenyamanan, kesejahteraan dan manfaat yang besar bagi penghuni dan pemiliknya. Acuan ini menyebabkan pembangunan Istana Sayap dirancang dengan berbagai pertimbangan, sehingga wujudlah tiga bangunan. Bangunan pertama adalah Bangunan Induk, sedangkan bangunan kedua dan ketiga yang terletak di samping kanan dan kiri bangunan induk dinamakan bangunan “Sayap Kanan” dan “Sayap Kiri”.
Di dalam budaya Melayu Riau, khasnya di kerajaan Pelalawan, setiap bangunan resmi terdiri dari bangunan Induk dan bangunan lainnya, yang lazim disebut “bangunan anak” atau “Bangunan Sayap”. Bila letaknya kearah belakang atau kemuka, dan menyatu dengan bangunan Induk, lazimnya disebut bangunan Anak, (selanjutnya disebut pula Selasar depan, selasar Belakang, Selasar Dalam, Selasar Luar, Selasar Jatuh, Gajah Menyusur dan sebagainya). Bila bangunan itu berada agak terpisah dan terletak simitris sebelah kanan dan kiri bangunan Induk, disebut “Sayap”. Lazimnya, bangunan Sayap hanya terdapat pada Istana Raja.
“yang ayam ada induknya
Yang serai ada rumpunnya
Yang sungai ada guguknya
Yang keris ada hulunya
Yan tombak ada gagangnya
Yang rumah ada tuannya
Yang kampong ada penghulunya
Yang negeri ada rajanya”
“Adat masuk ke rumah orang
Tahu duduk dengan tegaknya
Tahu susun dengan letaknya
Tahu atur dengan haknya
Tahu alur dengan patutnya”
“Rumah Induk ada Anaknya
Anak di kanan anak di kiri
Anak dibuat sama setara
Sama bentuk dengan ukurnya
Sama jauh dengan dekatnya
Sama padan dengan takahnya
Tanda adil sama dijunjung
Tanda menimbang sama berat
Tanda mengukur sama panjang
Tanda menyukat sama penuh
Tanda berlaba sama mendapat
Tanda hilang sama merugi
Tanda berat sama dipikul
Tanda ringan sama dijinjing
Tanda ke laut sama berbasah
Tanda ke darat sama berkering
Tanda senasib sepenanggungan
Tanda seaib sama semalu”
“Di dalam bangunan Induk
Terkandung tuah dengan marwah
Terkandung petuah dengan amanah
Terkandung janji dengan sumpah
Terkandung daulat dengan martabat
Terkandung makna dengan hakikat
Terkandung kasih dengan sayang
Terkandung beban berkepanjangan
Terkandung hutang tak berkesudahan
Hutang ke Allah hutang ke rakyat
Hutang tak dapat dibelah bagi
Hutang tak dapat diingkar-ingkari
Hutang amanah menebus sumpah”
“Yang raja memegang hulu
Hulu bicara hulu rundingan
Hulu petuah hulu amanah
Hulu titah membawa berkah
Hulu nasehat membawa berkat”
“Di Sayap Kanan raja duduk
Mencari runding pada yang elok
Di sana yang kusut diselesaikan
Di sana yang keruh dijernihkan
Di sana yang bengkok diluruskan
Disana yang salah dibetulkan
Disana yang kesat diampelas
Disana yang berbongkol sama ditarah
Disana yang sumbang diperbaiki
Disana yang janggal dielokkan
Disana hukum ditegakkan”
“Yang rakyat memberi ingat Memberi bakti serta pendapat Memberi setia serta amanat Supaya berjalan tak salah langkah Supaya bercakap tak salah ucap Supaya memerintah tak salah titah Supaya berjalan tak salah pedoman Supaya berlayar kearah yang benar Disana tangan bebas melenggang Disana kaki bebas melangkah Disana lidah bebas bercakap Disana janji sama diikat Disana amanah dipegang erat”
Pekanbaru, Juli 2006 Tenas Effendy
Syarif Abdurrahman (1798-1822 M) Syarif Hasyim (1822-1828 M) Syarif Ismail (1828-1844 M) Syarif Ismail (1844-1866 M) Syarif Ja’afar (1866-1872 M) Syarif Abubakar (1872-1886 M) Tengku Sontol Said Ali (1886-1892 M) Syarif Hasyim II (1892-1930 M) Tengku Said Osman (Pemangku Sultan) (1930-1941 M) Syarif Harun (1941-1946 M)
II. Pelalawan Sebagai Kabupaten
- Sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Karimun, Prop. Kepri dan Selat Malaka - Sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru - Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Bengkalis - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir
a. Darat : - Melalui Kota Pekanbaru dengan melewati jalan raya Lintas Timur. -Melalui Kota Jambi/Rengat (Kabupaten Inhu) dengan melewati jalan Raya Lintas Timur b. Laut/Sungai : - Melalui Penyalai di Kuala Kampar - Melalui Tolam, di Kecamatan Pelalawan - Melalui Teratak Buluh di Kabupaten Kampar c. Udara : - Melalui Bandar Udara Sultan Syarief Haroen di Komplek PT. RAPP (Riau Pulp and Paper) Kabupaten Pelalawan telah berkembang menjadi 12 Kecamatan terdiri dari 4 Kecamatan Definitif dan 8 Kecamatan Pembantu, diantaranya :
1. Kec. Langgam Luas, 916,61 km2
2. Kec. Bunut Luas, 1.339,96 km2
3. Kec. Pangkalan Kuras Luas, 2.158,68 km2
4. Kec. Kuala Kampar Luas, 4.656,34 km2
1. Kec. Pangkalan Kerinci Luas, 616,40 km2
2. Kec. Ukui Luas, 407,73 km2
3. Kec. Pelalawan Luas, 930,63 km2
4. Kec. Pangkalan Lengsung Luas, 472,73 km2
5. Kec. Kerumutan Luas, 773,86 km2
6. Kec. Teluk Meranti Luas, 217,49km2
7. Kec. Bandar Petalangan Luas, 365,26km2
8. Kec. Bandang sekijang Luas, 98,90 km2
foto istana sayap :
Rabu, 18 Juli 2012
Candi Muara Takus Di Kabupaten Kampar Provinsi RIAU
Situs Candi Muara Takus adalah
sebuah situs candi Buddha yang terletak di di desa Muara Takus, Kecamatan XIII
Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135
kilometer dari Kota Pekanbaru.
Situs Candi Muara Takus
dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih
dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah
berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir
Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi
yang disebut dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan
Palangka.
Para pakar purbakala belum dapat
menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan
abad keempat, ada yang mengatakan abad ketujuh, abad kesembilan bahkan pada
abad kesebelas. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan
Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah
satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.
Pada tahun 2009 Candi Muara Takus
dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.
Deskripsi situs
Candi Muara Takus adalah situs
candi tertua di Sumatera, merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang
berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa
agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi ini dibuat dari batu pasir,
batu sungai dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat
dari batu andesit yang diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara
Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai,
terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama
Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Cina, Pong berati lubang dan Kai
berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh
penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian itu
sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam
Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai,
dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.
Bangunan utama di kompleks ini
adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat
dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Di dalam situs Candi Muara
Takus ini terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi Bungsu,
Stupa Mahligai serta Palangka. Selain bangunan tersebut di dalam komplek candi
ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang
manusia. Sementara di luar situs ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas)
yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.
Nama - Nama Candi
Candi Mahligai

Candi Mahligai atau Stupa
Mahligai, merupakan bangunan candi yang dianggap paling utuh. Bangunan ini
terbagi atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Stupa ini memiliki
pondasi berdenah persegi panjang dan berukuran 9,44 m x 10,6 m, serta memiliki
28 sisi yang mengelilingi alas candi dengan pintu masuk berada di sebelah
Selatan.
Pada bagian alas tersebut terdapat ornamen lotus ganda, dan di bagian
tengahnya berdiri bangunan menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk kelopak
bunga pada bagian dasarnya. Bagian atas dari bangunan ini berbentuk lingkaran.
Menurut Snitger, dahulu pada ke-empat sudut pondasi terdapat 4 arca singa dalam
posisi duduk yang terbuat dari batu andesit.
Selain itu, berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Yzerman, dahulu bagian puncak menara terdapat batu dengan
lukisan daun oval dan relief-relief sekelilingnya. Bangunan ini diduga
mengalami dua tahap pembangunan. Dugaan in didasarkan pada kenyataan bahwa di
dalam kaki bangunan yang sekarang terdapat profil kaki bangunan lama sebelum
bangunan diperbesar.
Candi Tua
Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan
terbesar di antara bangunan lainnya di dalam situs Candi Muara Takus. Bangunan
ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap.
Bagian kaki
terbagi dua. Ukuran kaki pertama tingginya 2,37 m sedangkan yang kedua
mempunyai ketinggian 1,98 m. Tangga masuk terdapat di sisi Barat dan sisi Timur
yang didekorasi dengan arca singa. Lebar masing-masing tangga 3,08 m dan 4 m.
Dilihat dari sisa bangunan bagian dasar mempunyai bentuk lingkaran dengan garis
tengah ± 7 m dan tinggi 2,50 m. Ukuran pondasi bangunan candi ini adalah 31,65
m x 20,20 m. Pondasi candi ini memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar.
Bagian atas dari bangunan ini adalah bundaran.
Tidak ada ruang kosong sama
sekali di bagian dalam Candi Sulung. Bangunan terbuat dari susunan bata dengan
tambahan batu pasir yang hanya digunakan untuk membuat sudut-sudut bangunan,
pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas perbingkaian bawah kaki candi
dengan tubuh kaki serta pembatas tubuh kaki dengan perbingkaian atas kaki.
Berdasarkan penelitian tahun 1983 diketahui bahwa candi ini paling tidak telah
mengalami dua tahap pembangunan. Indikasi mengenai hal ini dapat dilihat dari
adanya profil bangunan yang tertutup oleh dinding lain yang bentuk profilnya
berbeda.
Candi Bungsu
Candi Bungsu bentuknya tidak jauh
beda dengan Candi Sulung. Hanya saja pada bagian atas berbentuk segi empat. Ia
berdiri di sebelah barat Candi Mahligai dengan ukuran 13,20 x 16,20 meter. Di
sebelah timur terdapat stupa-stupa kecil serta terdapat sebuah tangga yang
terbuat dari batu putih. Bagian pondasi bangunan memiliki 20 sisi, dengan
sebuah bidang di atasnya. Pada bidang tersebut terdapat teratai.
Penelitian
yang dilakukan oleh Yzerman, berhasil menemukan sebuah lubang di pinggiran
padmasana stupa yang di dalamnya terdapat tanah dan abu. Dalam tanah tersebut
didapatkan tiga keping potongan emas dan satu keping lagi terdapat di dasar
lubang, yang digores dengan gambar-gambar tricula dan tiga huruf Nagari.
Di
bawah lubang, ditemukan sepotong batu persegi yang pada sisi bawahnya ternyata
digores dengan gambar tricula dan sembilan buah huruf. Bangunan ini dibagi
menjadi dua bagian menurut jenis bahan yang digunakan. Kurang lebih separuh
bangunan bagian Utara terbuat dari batu pasir, sedangkan separuh bangunan bagian
selatan terbuat dari bata.
Batas antara kedua bagian tersebut mengikuti bentuk
profil bangunan yang terbuat dari batu pasir. Hal ini menunjukkan bahwa bagian
bangunan yang terbuat dari batu pasir telah selesai dibangun kemudian
ditambahkan bagian bangunan yang terbuat dari bata.
Candi Palangka
Bangunan candi ini terletak di
sisi timur Stupa Mahligai dengan ukuran tubuh candi 5,10 m x 5,7 m dengan
tinggi sekitar dua meter. Candi ini terbuat dari batu bata, dan memiliki pintu
masuk yang menghadap ke arah utara. Candi Palangka pada masa lampau diduga
digunakan sebagai altar.
Arsitektur
Candi Muara Takus merupakan salah
satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan
suci tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri
berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk
setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.
Stupa adalah ciri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya
dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya
stupa dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
- Stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan.
- Stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.
- Stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara.
Berdasarkan fungsi di atas dapat
disimpulkan bahwa bangunan di kompleks Candi Muara Takus menduduki fungsi yang
kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing
sebagai bangunan lengkap.
Arsitektur bangunan stupa Candi
Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di
Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar,
stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu
stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan
arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus.
Patung singa sendiri secara
filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat
mengalahkan aspek jahat atau aspek ‘terang’ yang dapat mengalahkan aspek
‘jahat’. Dalam ajaran agama Budha motif hiasan singa dapat dihubungkan maknanya
dengan sang Budha, hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang
Budha sebagai ‘singa dari keluarga Sakya’. Serta ajaran yang disampaikan oleh
sang Budha juga diibaratkan sebagai ‘suara’ (simhanada) yang terdengar keras di
seluruh penjuru mata angin.
Dalam naskah Silpa Prakasa
dituliskan bahwa terdapat empat tipe singa yang dianggap baik, antara lain :
- Udyatā: singa yang digambarkan di atas kedua kaki belakang, badannya dalam posisi membalik dan melihat ke belakang. Sikap ini disebut simhavalokana.
- Jāgrata: singa yang digambarkan dengan wajah yang sangat buas (mattarūpina). Ia bersikap duduk dengan cakarnya diangkat ke atas. Sering disebut khummana simha.
- Udyatā: singa yang digambarkan dalam sikap duduk dengan kaki belakang dan biasanya ditempatkan di atas suatu tempat yang tinggi. Terkenal dengan sebutan jhmpa-simha.
- Gajakrānta: singa yang digambarkan duduk dengan ketiga kakinya di atas raja gajah. Satu kaki depannya diangkat di depan dada seolah-olah siap untuk menerkam. Singa ini disebut simha kunjara.
Di kompleks Candi Muara Takus
sendiri terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yaitu Candi Sulung dan
Candi Mahligai. Di Candi Sulung arca singa ditemukan di depan candi atau di
tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai arca singa ditemukan di keempat
sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini, berdasarkan konsep yang berasal
dari kebudayaan India, dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh
jahat karena singa merupakan simbol dari kekuatan terang atau baik.
Berdasarkan penelitian R.D.M.
Verbeck dan E. Th. van Delden diduga bahwa bangunan Candi Muara Takus dahulunya
merupakan bangunan Buddhis yang terdiri dari biara dan beberapa candi.
Latar belakang pendirian
Candi merupakan bangunan suci
yang berkembang pada masa Hindu-Buddha. Bangunan suci ini dibuat sebagai sarana
pemujaan bagi dewa-dewi agama Hindu maupun agama Buddha. Agama Hindu dan Buddha
berasal dari India sehingga konsep yang digunakan dalam pendirian sebuah
bangunan suci sama dengan konsep yang berkembang dan digunakan di India, yaitu
konsep tentang air suci. Bangunan suci harus berada di dekat air yang dianggap
suci. Air itu nantinya digunakan sebagai sarana dalam upacara ritual. Peran air
tidak hanya digunakan untuk upacara ritual saja, namun secara teknis juga
diperlukan dalam pembangunan maupun pemeliharaan dan kelangsungan hidup
bangunan itu sendiri. Didirikannya bangunan suci di suatu tempat memang tempat
tersebut potensi untuk dianggap suci, dan bukan bangunannya yang potensi
dianggap suci. Maka dalam usaha pendirian bangunan suci para seniman bangunan
selalu memperhatikan potensi kesucian suatu tempat dimana akan didirikan
bangunan tersebut.
Agar tetap terjaga dan
terpeliharanya kesucian suatu tempat, maka harus dipelihara daerah sekitar
titik pusat bangunan atau Brahmasthana serta keempat titik mata angin dimana
dewa Lokapala (penjaga mata angin) berada untuk melindungi dan mengamankan
daerah tersebut sebagai Wastupurusamandala yaitu perpaduan alam gaib dan alam
nyata. Kemudian dilakukan berbagai upacara untuk mensucikan tanah tersebut.
Dalam hal ini air sangat berperan selama upacara berlangsung, karena air selain
mensucikan juga untuk menyuburkan daerah tersebut. Sehingga dalam upaya
pendirian suatu bangunan suci, selain potensi kesucian tanah yang perlu
diperhatikan adalah keberadaan atau tersedianya air di daerah tersebut. Hal ini
sama dengan konsep kebudayaan India yang menyatakan bahwa keberadaan gunung
meru sebagai tempat tinggal para dewa dikeilingi oleh tujuh lautan. Maka secara
nalar dan umun dapat diketahui bahwa pendirian sebagian besar bangunan suci
tempatnya selalu berada di dekat air.
Keadaan geografis wilayah
Sumatera yang memiliki aliran sungai yang besar sangat mendukung konsep dari
kebudayaan India tersebut. Dengan adanya aliran sungai besar tersebut air
dengan mudah didapat untuk keperluan dari upacara ritual. Selain faktor air,
faktor ekonomi juga dapat melatarbelakangi berdirinya suatu bangunan suci.
Aliran sungai di Sumatera pada masa lampau merupakan jalur transportasi untuk
perdagangan. Pada awalnya jumlah pedagang yang datang sedikit. Namun lama
kelamaan karena menunggu waktu yang tepat untuk berlayar maka mereka bermukim
di sekitar daerah tersebut. Maka diperlukanlah tempat peribadatan untuk umat
beragama, dan didirikanlah bangunan suci. Karena tidak mungkin berdirinya suatu
bangunan sakral atau candi tanpa didukung masyarakat pendirinya demi
kelangsungan hidup bangunan suci tersebut. Maka seirama dengan tumbuh dan
pesatnya perdagangan di suatu tempat pada umumnya akan muncul pula
bangunan-bangunan suci atau candi untuk digunakan sebagai tempat menjalankan
upacara ritual oleh para pelaku ekonomi tersebut yang telah mengenal magis
terhadap bangunan candi, berperan dalam fungsi perkembangan sosial/ekonomi dan
perdagangan.
Faktor kekuasaan juga berpengaruh
dalam pembangunan suatu candi. Suatu kerajaan yang berhasil menaklukkan suatu
wilayah, tentunya terdapat tinggalan yang dapat menggambarkan ciri khas suatu
kerajaan tersebut. Tinggalan tersebut dapat berupa prasasti maupun candi.
Beberapa aspek dalam pendirian
candi
Dari suatu bangunan candi kita
dapat melihat beberapa aspek kehidupan. Pada candi Muara Takus ini aspek-aspek
yang dapa kita lihat antara lain:
- Aspek teknologi: Bahan yang digunakan adalah batu bata. Ukuran bata yang dipakai membangun candi ini bervariasi, panjang antara 23 sampai 26 cm, lebar 14 sampai dengan 15,5 cm dan tebalnya 3,5 cm sampai 4,5 cm. Bata pada masa lampau memiliki kualitas yang lebih baik dari bata pada masa sekarang. Ini dikarenakan tanah liat yang digunakan disaring sampai benar-benar tidak ada komponen lain selain tanah liat, misalnya pasir. Selain itu, terdapat ”isian” di dalam bata, biasanya berupa sekam. Maksud dari isian ini, supaya bata kuat. Perekatan antar batu bata menggunakan sistem kosod. Sistem kosod merupakan sistem perekatan bata dengan cara menggosokkan bata dengan bata lain dimana pada bidang gosokannya tersebut diberi air. Sistem ini juga dapat ditemukan pada situs-situs di Jawa Timur dan masih dapat ditemukan di daerah Bali. Perekatan bata yang menggunakan sistem kosod menyebabkan perekatan antar bata akan bertambah erat dari tahun ke tahun.
- Aspek sosial: Pembangunan candi ini dilakukan secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai. Begitu juga pada saat upacara pemujaan terdapat perbedaan status, yaitu pemimpin upacara dan pengikutnya.
- Aspek religi: terlihat dari bentuk candi Muara Takus yang berupa stupa, yang menunjukkan candi ini sebagai tempat pemujaan umat agama Buddha, khususnya aliran Mahayana.
sumber : id.wikipedia.org
Selasa, 17 Juli 2012
kerajaan siak sri indrapura
"istana siak sri indrapura"
"sultan syarif kasim II"
Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu
Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kerajaan
ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul
Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor.
Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari
yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera
dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh
pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus
mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Pasang surut
kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur
perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak
terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan
Republik Indonesia.
Etimologi
Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat
kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti
"bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura
dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan". Siak dalam
anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak
ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun
beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.
Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara
Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan
dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan
diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari
Yunani. Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih
dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai.
Agama
Perkembangan agama Islam di Siak, menjadikan kawasan ini
sebagai salah satu pusat penyebaran dakwah Islam, hal ini tidak lepas dari
penggunaan nama Siak secara luas di kawasan Melayu. Jika dikaitkan dengan
pepatah Minangkabau yang terkenal: Adat menurun, syara’ mendaki dapat bermakna
masuknya Islam ke dataran tinggi pedalaman Minangkabau dari Siak sehingga
orang-orang yang ahli dalam agama Islam, sejak dahulu sampai sekarang, masih
tetap disebut dengan Orang Siak. Sementara di Semenanjung Malaya, penyebutan
Siak masih digunakan sebagai nama jabatan yang berkaitan dengan urusan agama
Islam.
Walau telah menerapkan hukum Islam pada masyarakatnya, namun
pengaruh Minangkabau dengan identitas matrilinealnya masih mewarnai tradisi
masyarakat Siak. Dalam pembagian warisan, masyarakat Siak mengikut kepada hukum
waris sebagaimana berlaku dalam Islam. Namun dalam hal tertentu, mereka
menyepakati secara adat bahwa untuk warisan dalam bentuk rumah hanya diserahkan
kepada anak perempuan saja.
Masa awal
Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara
tahun 1513-1515, Siak merupakan kawasan yang berada antara Arcat dan Indragiri
yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau, kemudian menjadi
vazal Malaka sebelum ditaklukan oleh Portugal. Munculnya VOC sebagai penguasa
di Malaka, Siak diklaim oleh Johor sebagai bagian wilayah kedaulatannya sampai
munculnya Raja Kecil.
Dalam Syair Perang Siak, Raja Kecil putra Pagaruyung,
didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis, sekaligus
melepaskan Siak dari pengaruh Johor. Sementara Raja Kecil dalam Hikayat Siak
disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam
perebutan kekuasaan. Berdasarkan korespodensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan
Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu, menyebutkan
bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang
dengan pihak VOC. Kemudian Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri, yang
ditujukan kepada pihak Belanda menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari
Pagaruyung, akan menuntut balas atas kematian Sultan Johor.
Sebelumnya dari catatan Belanda, telah mencatat pada tahun
1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau
berperang melawan raja Jambi. Dalam salah satu versi Sulalatus Salatin juga
menceritakan tentang bagaimana hebatnya serangan Jambi ke Johor (1673), yang
mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan Johor, yang sebelumnya juga telah
dihancurkan oleh Portugal dan Aceh. Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi,
Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul
Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.
Pada tahun 1718 Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai
Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor dengan
gelar Yang Dipertuan Besar Johor, namun pada tahun 1722 terjadi pemberontakan
yang dipimpin oleh Raja Sulaiman anak Bendahara Johor, yang juga menuntut hak
atas tahta Johor, dibantu oleh pasukan bayaran dari Bugis. Akhir dari
peperangan ini, Raja Sulaiman mengukuhkan diri menjadi penguasa Johor di
pedalaman Johor, sementara Sultan Abdul Jalil, pindah ke Bintan dan kemudian
tahun 1723 membangun pusat pemerintahan baru di sehiliran Sungai Siak dengan
nama Siak Sri Inderapura.
Sementara pusat
pemerintahan Johor yang sebelumnya berada sekitar muara Sungai Johor
ditinggalkan begitu saja, dan menjadi status quo dari masing-masing penguasa
yang bertikai tersebut. Sedangkan klaim Raja Kecil sebagai pewaris sah tahta
Johor diakui oleh komunitas Orang Laut, kelompok masyarakat yang bermukim pada
kawasan kepulauan membentang dari timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan
dan loyalitas ini terus bertahan sampai kepada beberapa keturunan Raja Kecil
berikutnya.
Masa keemasan
Dengan klaim sebagai pewaris Malaka, pada tahun 1724-1726
Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah, dimulai dengan memasukan Rokan
ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan.
Namun tahun 1728 atas perintah Raja Sulaiman, Yang Dipertuan Muda bersama
pasukan Bugisnya, berhasil menekan Raja Kecil keluar dari kawasan kepulauan.
Raja Sulaiman kemudian menjadikan Bintan sebagai pusat pemerintahannya dan atas
keberhasilan itu Yang Dipertuan Muda diberi kedudukan di Pulau Penyengat.
Sementara Raja Kecil terpaksa melepas hegemoninya pada
kawasan kepulauan dan mulai membangun kekuatan baru pada kawasan sepanjang
pesisir timur Sumatera. Antara tahun 1740-1745, Raja Kecil kembali bangkit dan
menaklukan beberapa kawasan di Semenanjung Malaya. Ancaman dari Siak, serta di
saat bersamaan Johor juga mulai tertekan oleh orang-orang Bugis yang meminta
balas atas jasa mereka. Hal ini membuat Raja Sulaiman pada tahun 1746 meminta
bantuan Belanda di Malaka dan menjanjikan memberikan Bengkalis kepada Belanda,
kemudian direspon oleh VOC dengan mendirikan gudang pada kawasan tersebut.
Sepeninggal Raja Kecil tahun 1746, klaim atas Johor memudar,
dan pengantinya Sultan Mahmud fokus kepada penguatan kedudukannya di pesisir
timur Sumatera dan daerah vazal di Kedah dan kawasan pantai timur Semenanjung
Malaya. Pada tahun 1761, Sultan Siak membuat perjanjian ekslusif dengan pihak
Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya serta bantuan
dalam bidang persenjataan. Walau kemudian muncul dualisme kepemimpinan di
kerajaan ini yang awalnya tanpa ada pertentangan di antara mereka, Raja
Muhammad Ali, yang lebih disukai Belanda, kemudian menjadi Sultan Siak,
sementara sepupunya Raja Ismail, tidak disukai oleh Belanda, muncul sebagai
Raja Laut, menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan,
membangun kekuatan di gugusan Pulau Tujuh.
Sekitar tahun 1767, Raja Ismail, telah menjadi duplikasi dari
Raja Kecil, didukung oleh Orang Laut, terus menunjukan dominasinya di kawasan
perairan timur Sumatera, dengan mulai mengontrol perdagangan timah di Pulau
Bangka, kemudian menaklukan Mempawah di Kalimantan Barat. Sebelumnya Raja
Ismail juga turut membantu Terengganu menaklukan Kelantan, hubungan ini
kemudian diperkuat oleh adanya ikatan perkawinan antara Raja Ismail dengan
saudara perempuan Sultan Terengganu. Pengaruh Raja Ismail di kawasan Melayu sangat
signifikan mulai dari Terengganu, Jambi dan Palembang. Laporan Belanda
menyebutkan Palembang telah membayar 3000 ringgit kepada Raja Ismail agar jalur
pelayarannya aman dari gangguan, sementara Hikayat Siak menceritakan tentang
kemeriahan sambutan yang diterima oleh Raja Ismail sewaktu kedatangannya ke
Palembang.
Pada abad ke-18 Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang
dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan
daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya, termasuk
wilayah Deli dan Serdang. Di bawah ikatan perjanjian kerjasama dengan VOC, pada
tahun 1784 Kesultanan Siak membantu VOC menyerang dan menundukkan Selangor, sebelumnya
mereka telah bekerjasama memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di
Pulau Penyengat.
Perdagangan
Kesultanan Siak Sri Inderapura mengambil keuntungan atas
pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka serta kemampuan mengendalikan para
perompak di kawasan tersebut. Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan
Belanda yang menyebutkan pada tahun 1783, ada sekitar 171 kapal dagang dari
Siak menuju Malaka. Siak menjadi kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di
Malaka dan Inggris di Pulau Pinang. Namun disisi lain kejayaan Siak ini memberi
kecemburuan pada keturunan Yang Dipertuan Muda terutama setelah hilangnya
kekuasaan mereka pada kawasan Kepulauan Riau. Sikap ketidaksukaan dan
permusuhan terhadap Sultan Siak, terlihat dalam Tuhfat al-Nafis, di mana dalam
deskripsi ceritanya mereka mengambarkan Sultan Siak sebagai orang yang rakus
akan kekayaan dunia.
Peranan Sungai Siak sebagai bagian kawasan inti dari kerajaan
ini berpengaruh besar terhadap kemajuan perekonomian Siak Sri Inderapura.
Sungai Siak merupakan kawasan pengumpulan berbagai produk perdagangan, mulai
dari kapur barus, benzoar bahkan timah dan emas. Sementara pada saat bersamaan
masyarakat Siak juga telah menjadi eksportir kayu yang utama di Selat Malaka
serta salah satu kawasan industri kayu terutama untuk pembuatan kapal maupun
untuk bangunan. Dengan cadangan kayu yang berlimpah, pada tahun 1775 Belanda
mengizinkan kapal-kapal Siak mendapat akses langsung kepada sumber beras dan
garam di Pulau Jawa, tanpa harus membayar kompensasi kepada VOC namun tentu
dengan syarat Belanda juga diberikan akses langsung kepada sumber kayu di Siak,
yang mereka sebut sebagai kawasan hutan hujan yang tidak berujung.
Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai
timur Sumatera dan Semenanjung Malaya cukup signifikan, mereka mampu
mengantikan pengaruh Johor sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan, selain
itu Kesultanan Siak juga muncul sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi
Minangkabau, melalui tiga sungai utama yaitu Siak, Kampar, dan Kuantan, yang
sebelumnya telah menjadi kunci bagi kejayaan Malaka. Namun demikian kemajuan
perekonomian Siak memudar seiring dengan munculnya gejolak di pedalaman
Minangkabau yang dikenal dengan Perang Padri.
Penurunan
Ekspansi kolonialisasi Belanda ke kawasan timur Pulau
Sumatera tidak mampu dihadang oleh Kesultanan Siak, dimulai dengan lepasnya
Kesultanan Deli, Kesultanan Asahan dan Kesultanan Langkat, kemudian muncul
Inderagiri sebagai kawasan mandiri. Begitu juga di Johor kembali didudukan
seorang sultan dari keturunan Tumenggung Johor, yang berada dalam perlindungan
Inggris di Singapura. Sementara Belanda memulihkan kedudukan Yang Dipertuan
Muda di Pulau Penyengat dan kemudian mendirikan Kesultanan Lingga di Pulau
Lingga. Selain itu Belanda juga mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan
mendirikan Residentie Riouw pemerintahan Hindia-Belanda yang berkedudukan di Tanjung
Pinang.
Penguasaan Inggris atas Selat Melaka, mendorong Sultan Siak
pada tahun 1840 untuk menerima tawaran perjanjian baru mengganti perjanjian
yang telah mereka buat sebelumnya pada tahun 1819. Perjanjian ini menjadikan
wilayah Kesultanan Siak semakin kecil dan terjepit antara wilayah kerajaan
kecil lainnya yang mendapat perlindungan dari Inggris. Demikian juga pihak
Belanda menjadikan kawasan Siak sebagai salah satu bagian dari pemerintahan
Hindia-Belanda, setelah memaksa Sultan Siak menandatangani perjanjian pada 1
Februari 1858. Dari perjanjian tersebut Siak Sri Inderapura kehilangan
kedaulatannya, kemudian dalam setiap pengangkatan raja Siak mesti mendapat
persetujuan dari Belanda. Selanjutnya dalam pengawasan wilayah, Belanda
mendirikan pos militer di Bengkalis serta melarang Sultan Siak membuat
perjanjian dengan pihak asing tanpa persetujuan Residen Riau pemerintahan
Hindia-Belanda.
Perubahan peta politik atas penguasaan jalur Selat Malaka,
kemudian adanya pertikaian internal Siak dan persaingan dengan Inggris dan
Belanda melemahkan pengaruh hegemoni Kesultanan Siak atas wilayah-wilayah yang
pernah dikuasainya. Tarik ulur kepentingan kekuatan asing terlihat pada
Perjanjian Sumatera antara pihak Inggris dan Belanda, menjadikan Siak berada
pada posisi yang dilematis, berada dalam posisi tawar yang lemah. Kemudian
berdasarkan perjanjian pada 26 Juli 1873, pemerintah Hindia-Belanda memaksa
Sultan Siak, untuk menyerahkan wilayah Bengkalis kepada Residen Riau. Namun di
tengah tekanan tersebut Kesultanan Siak masih mampu tetap bertahan sampai
kemerdekaan Indonesia, walau pada masa pendudukan tentara Jepang sebagian besar
kekuatan militer Kesultanan Siak sudah tidak berarti lagi.
Bergabung dengan Indonesia
Sultan Syarif Kasim II, merupakan Sultan Siak terakhir yang
tidak memiliki putra, seiring dengan kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim
II menyatakan kerajaannya bergabung dengan negara Republik Indonesia
Struktur pemerintahan
Pengaruh Kerajaan Pagaruyung, juga mewarnai sistem
pemerintahan pada Kesultanan Siak, setelah Sultan Siak, terdapat Dewan Menteri
yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Minangkabau. Dewan Menteri ini
memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang
Yang Ampat di Negeri Sembilan. Dewan Menteri bersama dengan Sultan menetapkan
undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri
dari:
- Datuk Tanah Datar
- Datuk Limapuluh
- Datuk Pesisir
- Datuk Kampar
Seiring dengan perkembangan zaman, Siak Sri Inderapura juga
melakukan pembenahan sistem birokrasi pemerintahannya. Hal ini tidak lepas dari
pengaruh model birokrasi pemerintahan yang berlaku di Eropa maupun yang
diterapkan pada kawasan kolonial Belanda atau Inggris. Modernisasi sistem
penyelenggaraan pemerintahan Siak terlihat pada naskah Ingat Jabatan yang
diterbitkan tahun 1897. Naskah ini terdiri dari 33 halaman yang panjang serta
ditulis dengan Abjad Jawi. Ingat Jabatan merupakan dokumen resmi Siak Sri
Inderapura yang dicetak di Singapura, berisi rincian tanggung jawab dari
berbagai posisi atau jabatan di pemerintahan mulai dari pejabat istana, wakil
kerajaan di daerah jajahan, pengadilan maupun polisi. Pada bagian akhir dari
setiap uraian tugas para birokrat tersebut ditutup dengan peringatan serta
perintah untuk tidak khianat kepada sultan dan nagari.
Perkembangan selanjutnya, Siak Sri Inderapura juga
menerbitkan salah satu kitab hukum atau undang-undang, dikenal dengan nama Bab
al-Qawa'id. Kitab ini dicetak di Siak tahun 1901, menguraikan hukum yang
dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara
dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan
pihak pemerintah Hindia-Belanda, di mana jika terjadi permasalahan akan
diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah
Hindia-Belanda.
Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak
diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak,
Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Siak serta Controleur Siak sebagai anggota.
Selanjutnya beberapa nama jabatan lainnya dalam pemerintahan Siak antara lain
Pangiran Wira Negara, Biduanda Pahlawan, Biduanda Perkasa, Opas Polisi.
Kemudian terdapat juga warga dalam yang bertanggung jawab terhadap harta-harta
disebut dengan Kerukuan Setia Raja, serta Bendarhari Sriwa Raja yang
bertanggung jawab terhadap pusaka kerajaan.
Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak membagi
kawasannya atas hulu dan hilir, masing-masing terdiri dari beberapa kawasan
dalam bentuk distrik yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau
Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar
Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan
Siak, salah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan.
Pada kawasan tertentu di Siak Sri Inderapura, ditunjuk Kepala
Suku yang bergelar Penghulu, dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta
Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang
sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak
dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan
Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam
Kesultanan Siak, sama halnya dengan pengertian Rangkayo atau Urang Kayo di
Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.
Warisan sejarah
Siak Sri Inderapura sampai sekarang tetap diabadikan sebagai
nama ibu kota dari Kabupaten Siak, dan Balai Kerapatan Tinggi yang dibangun
tahun 1886 serta Istana Siak Sri Inderapura yang dibangun pada tahun 1889, masih
tegak berdiri sebagai simbol kejayaan masa silam, termasuk Tari Zapin dan Tari
Olang-olang yang pernah mendapat kehormatan menjadi pertunjukan utama untuk
ditampilkan pada setiap perayaan di Kesultanan Siak Sri Inderapura. Begitu juga
nama Siak masih melekat merujuk kepada nama sebuah sungai di Provinsi Riau
sekarang, yaitu Sungai Siak yang bermuara pada kawasan timur pulau Sumatera.
sumber : id.wikipedia.org




















